February 9, 2023

 

PERANAN SYEKH YUSUF AL-MAKASSARI DALAM PROSES ISLAMISASI DI AFRIKA SELATAN (1694-1699)
Melikhatun
Guru Sejarah SMA N 1 Ngluwar
email: me[email protected]
Abstrak

Syekh Yusuf Al-Makassari merupakan seorang ulama sufi yang terkenal dan memiliki peranan penting dalam proses islamisasi khususnya di daerah Afrika Selatan. Syekh Yusuf diasingkan di Afrika Selatan pada tahun 1694 hingga wafat pada tahun 1699. Selama enam tahun di Afrika Selatan inilah, Syekh Yusuf memiliki peranan yang penting dalam proses islamisasi. Selama ini belum banyak sejarawan yang menulisnya sehingga peneliti tertarik untuk mengkajinya lebih lanjut.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sejarah kritis dari Kuntowijoyo, yaitu: (1) Pemilihan Topik, yaitu kegiatan untuk menentukan permasalahan yang akan dikaji. (2) Heuristik, pengumpulan data sejarah yang betul-betul valid dan otentik. (3) Kritik Sumber, yaitu kegiatan meneliti untuk validitas dan reabilitas sumber sejarah melalui kritik ekstern dan kritik intern. (4) Interpretasi, menganalisis dan membuat sintesis sumber-sumber yang ada. (5) Historiografi, yaitu merangkaikan fakta-fakta dan maknanya secara kronologis atau diakronis serta sistematis menjadi tulisan sejarah sebagai kisah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Syekh Yusuf Al-Makassari dilahirkan di kerajaan Gowa pada tanggal 3 Juli 1629 M. Syekh Yusuf menuntut ilmu di berbagai daerah, diantaranya Aceh, Arab Saudi, Yaman, Madinah dan Damaskus. Syekh Yusuf Al-Makassari terlibat dalam konflik antara Banten dengan Belanda dan akhir dari konflik tersebut ia tertangkap oleh Belanda dan diasingkan di Sri Langka
2
kemudian dipindahkan ke Afrika Selatan. Di Afrika Selatan ini, Syekh Yusuf Al-Makassari bersama dengan pengikutnya berperan penting dalam islamisasi di daerah tersebut.
Kata kunci: Syekh Yusuf Al-Makassari, Islamisasi, Afrika Selatan
PENDAHULUAN
Kaum muslimin di Afrika Selatan dikenal dengan Melayu, karena mereka memang keturunan Melayu, Indonesia ditambah sebagian dari keturunan Arab, Sri Langka dan India.1 Perkembangan islam di Afrika Selatan merupakan hasil dari kegiatan dakwah oleh rumpun Melayu yang sebagian besarnya berasal dari kepulauan Indonesia. Mereka ini terdiri dari empat kelompok seperti golongan hamba, buangan politik, penjenayah dan kaum merhadika. Tokoh yang terpenting yang menjadi buangan politik ialah Abidin Tadia atau lebih dikenal dengan Syekh Yusuf.2
Syekh Yusuf Al-Makassar dikenal sebagai seorang ulama dan cendekiawan besar, ia dikenal pula sebagai pejuang kemerdekaan melawan penjajah Belanda di Banten. Ia dianggap sebagai sesepuh penyebaran islam di Afrika Selatan. Pengaruh Syekh Yusuf di Afrika Selatan hingga kini masih sangat besar. Bahkan, Nelson Mandela yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan menjulukinya sebagai “Salah Seorang Putra Afrika Terbaik”. Sejak tahun 1995, nama Syekh Yusuf Al-Makassari tercantum sebagai pahlawan nasional berdasarkan ketetapan pemerintah RI.3
1 M.A Lubis. Perkembangan Islam di Afrika (ketjuali keliling Lautan Tengah) dari dahulu sampai sekarang. Jakarta: Pustaka Azam. 1964. hlm 44.
2 Mohd, Ariff bin Yusof dan Denys Lombard. Cultures in Contact: Kertas Kerja Simposium antara Bangsa mengenai Hubungan antara Kebudayaan. Kuala Lumpur: Kementrian Kebudayaan, Kesenian dan Pelancongan Malaysia. 1997. hlm. 174-175.
3 Hri. Syekh Yusuf Tonggak Islam di Afrika Selatan. Tersedia pada www.republika.co.id. Diakses pada tanggal 28 April 2016.
3
A. Profil Syekh Yusuf Al-Makassari
Syekh Yusuf Al-Makassari dilahirkan di Gowa Tallo, Sulawesi Selatan pada 3 Juli 1626 M. Nama aslinya adalah Muhammad Yusuf, yang terkenal dengan gelar asy-Syeikh al-Hajj Yusuf Abu Mahasin Hidayatullah Taj al-Khalawati al-Makassari al-Bantani.4 Beliau adalah seorang keturunan raja dari garis keturunan Ibunya yaitu Putri Gallarang Monconglo’e yaitu Siti Aminah yang menikah dengan seorang pemuda dari kalangan biasa. Sejak kecil Syekh Yusuf Al-Makassari diangkat sebagai anak oleh Sultan Alaudin dan ia sangat disayangi oleh Raja, ia diasuh menurut tradisi kebangsawanan.5
Sejak kecil, Syekh Yusuf telah diajari hidup secara islam, ia diajar mengaji Al-quran oleh seorang guru bernama Daeng ri Tasammang. Kemudian dilanjutkan mempelajari Sharaf, Nahwu, Mantik dan lain-lain kitab yang dipelajarinya dari Sayed Ba’ Alwy bin Abdullah al-Allamah Thahir. Dalam tempo beberapa tahun ia sudah tamat mempelajari kitab-kitab Fiqhi dan Tauhid. Dalam usia 15 tahun, Syekh Yusuf mengunjungi ulama terkenal di Cikoang yang bernama Syekh Jalaluddin al-Aidit untuk menimba ilmu.6
Pada usia 18 tahun, Syekh Yusuf meninggalkan negerinya Gowa menuju pusat Islam di Mekah pada tanggal 22 September 1644. Namun ia tidak langsung ke Mekah, ia singgah di beberapa tempat seperti Banten, Aceh dan Yaman. Di Banten, Syekh Yusuf tidak merasa dirinya orang asing, ia dihargai sebagai seorang alim. Ia bersahabat dengan putra mahkota yang kelak akan menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Setelah beberapa lama di Banten, Syekh Yusuf
4 T. Hasan Basri. Afrika Selatan Catatan Sebuah Perjalanan di Bumi Nelson Mandela. Bandung: Humaniora. 2006. hlm 98.
5Abu Hamid. Syekh Yusuf Seorang Ulama: Sufi dan Pejuang. Jakarta: Yayaysan Obor Indonesia. 1994. hlm 86.
6 Ibid. hlm. 86-87.
4
meneruskan perjalanan ke Aceh untuk menemui Nuruddin ar-Raniri dan ia menerima ijazah tarekat Qadiriyah.7
Syekh Yusuf kemudian menuju Yaman. Disana ia menerima ijazah tarekat Naqsyabandiyah dari Syekh Abdullah Muhammad bin Abd al-Baqi. Kemudian ia menerima ijazah tarekat Assadah al-Ba’alawiyah dari Sayid Ali al-Zabidi.8 Setelah tiba musim haji, ia ke Mekah menunaikan ibadah haji dan dilanjutkan perjalanannya menuntut ilmu di Madinah. Ia kemudian menemui Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani. Dari Syekh ini diterimanya ijazah tarekat Syattariyah. Syekh Ibrahim yang juga dikenal dengan nama Mulla Ibrahim adalah juga guru Syekh Abdurrauf Singkel.9
Syekh Yusuf pergi ke Syam untuk menemui Syekh Abu al Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi. Gurunya ini memberikan ijazah tarekat Khalwatiyah setelah dilihat kemajuan amal syariat dan amal hakikat yang dialami oleh Syekh Yusuf. Oleh karena itu, gurunya mengukuhkannya dengan gelar Tajul Khalwati Hidayatullah.10
Sebelum pulang ke Indonesia, Syekh Yusuf kawin dengan putri Imam Syafii, yakni Imam Masjid Haram di Mekah pada masa itu yang bernama Sitti Hadijah. Dari perkawinannya itu lahirlah seorang wanita yang diberi Sitti Samang atau Puang Ammang. Istrinya meninggal karena melahirkan, kemudian Syekh Yusuf ke Jeddah menunggu kapal. Disebutkan pula bahwa Syekh Yusuf kawin dengan putri seorang syekh di Jeddah dan lahir seorang anak laki-laki yang kemudian dikenal dengan nama Daeng Kare Sitaba.11
7 Nabilah Lubis. Syekh Yusuf Al-Taj Al-Makasari: Menyingkap Intisari Segala Rahasia. Bandung: Mizan. 1997. hlm. 21.
8 Ibid. hlm. 21.
9 Abu Hamid. op.cit. hlm. 92.
10 Ibid. hlm. 93.
11 Ibid. hlm. 94-95.
5
B. Keterlibatan Syekh Yusuf Al-Makassari Dalam Konflik Antara Banten Dengan Belanda
Syekh Yusuf al-Makassari ditunjuk untuk mendidik putra-putri Sultan di Banten pada bidang agama islam, sehingga menjadi guru dari anak tertua, Pangeran Gusti, yang kemudian dikenal dengan gelar Sultan Haji. Syekh Yusuf dikawinkan dengan putri Sultan Ageng sendiri, kemudian diangkat menjadi mufti dan penasihat kerajaan.12
Saat terjadi perebutan tahta kerajaan Banten, antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji, Yusuf bersama para pengikutnya memihak kepada Sultan Ageng hingga mereka terpaksa menghadapi kompeni yang memihak kepada Sultan Haji.13 Perang terbuka terhadap kompeni tidak dapat ditahan lagi. Pada tahun 1682, Kraton Surosoan diserbu oleh tentara Sultan Tua untuk mengusir kompeni dan pengikut Sultan Haji. Dalan bulan Maret, berkecamuk perang di Banten baik di darat maupun di laut.14
Penyerahan diri Sultan Ageng kepada putranya di Surosoan terjadi pada tanggal 14 Maret 1683, tidak lama kemudian ia ditangkap oleh Kompeni dan segera dibawa dan dimasukkan dalam penjara di Jakarta. Diberitakan oleh De Haan bahwa sepuluh tahun kemudian, Sultan Ageng wafat. Perang gerilya dilanjutkan oleh Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Kidul di daerah Tangerang, berhadapan dengan pasukan Van Happel.15
Syekh Yusuf memimpin kurang lebih 5.000 pasukan. Dari jumlah itu, seribu orang adalah suku Bugis-Makassar dan seribu orang Melayu yang sengaja datang dari Makassar dan Melayu. Kompeni Belanda
12 Ibid. hlm. 97.
13 Taufik Abdullah. Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2005. hlm. 244.
14 Abu Hamid. op.cit. hlm. 100-101.
15 Ibid. hlm 102.
6
mengumumkan barang siapa berhasil menangkap Syekh Yusuf hidup atau mati akan diberi hadiah 1000 ringgit.16
Pertempuran di Padeharang merupakan penentuan nasib antar gerilyawan Syekh Yusuf dibantu oleh gerilyawan Banyumas yang dipimpin oleh Namrud dengan pasukan Eygel dan Van Happel pada bulan September 1683. Dari kepungan dan pertempuran tersebut, Syekh Yusuf bisa lolos. Syekh Yusuf kemudian menuju Banjar.17
Syekh Yusuf hidup disebuah negeri bernama Mandala di daerah Sukapura. Tempat ini dijadikan benteng pertahanan yang strategis, sehingga tentara Kompeni merasa sulit melakukan serangan-serangan. Sesudah beristirahat beberapa hari, Van Happel menjalankan tipu muslihat yang halus yaitu ia datang dengan berpakaian Arab (islam), dibawa serta putri Syekh Yusuf yang bernama Asma (ditangkap di Padaherang) berpura-pura seperti tahanan kompeni yang diperlakukan secara baik, ia lolos dari pos-pos penjagaan. Dengan cara itu ia sampai di tempat Syekh Yusuf.18
Akhirnya Syekh Yusuf dibawa ke Cirebon oleh Van Happel. Kemudian dibawa ke Batavia bersama anggota keluarganya, 12 orang santri dan tentaranya langsung dimasukkan ke dalam penjara benteng. Syekh yusuf kemudian diasingkan ke Ceylon dalam usia 58 tahun. Selama Sembilan tahun di Ceylon Syekh Yusuf selalu menimbulkan kecurigaan Kompeni. Akhirnya diputuskan bahwa Syekh Yusuf dipindahkan ke Kaap (Afrika Selatan), ia tiba di Pantai Afrika Selatan pada tanggal 2 April 1694.
16 Y.B Sudarmanto. Jejak-jejak Pahlawan: Dari Sultan Agung Hingga Syekh Yusuf. Jakarta: Grasindo. 1996. hlm. 316.
17 Abu Hamid. op.cit. hlm. 104.
18 Ibid. hlm 105-106.
7
C. Peranan Syekh Yusuf Al-Makassari Dalam Islamisasi di Afrika Selatan
Syekh Yusuf dipindahkan ke Kaap dengan kapal “Voetboeg” bersama 49 orang yang terdiri atas dua orang istri, 12 orang santri yang bisa melayani orang dalam beribadat, 2 orang pembantu wanita, 14 orang sahabat, dan putra-putrinya, serta hamba-hambanya. Lama perjalanan memakan waktu 8 bulan 23 hari dan tiba di Pantai Afrika Selatan pada tanggal 2 April 1694. Rombongan Syekh Yusuf yang sudah tiba di Kaap ditempatkan di Zandvliet, dekat muara Eerste River. Tempat ini adalah milik Dominus Petrus Kalden.19
Adapun nama-nama istri, anak-anak dan pengikut Syekh Yusuf yang sempat dicatat dalam dokumen Kompeni di Hindia Timur yang bertanggal 30 Oktober 1699 hari Jumat, disebutkan:
1. Dua orang istri bernama Carecontoe dan Carepane (dalam bahasa Makassar: Kare Kontu dan Kare Pane)
2. Dua orang pembantu wanita bernama Mu’minah dan Naimah
3. Dua belas orang putra-putri masing-masing bernama Muhammad Rajah (Rajab), Muhammad Hayy (Hayyi), Muhammad Jalani (Jaelani), Radeengh (Raden) Boerne, Roemalangh (Ramlan), ‘Isa (Aisya), Jahamath, Care Sangie, Sanda, Siety (Sitti), Caeaty, Siety Romia, dan Siety Labieba (Sitti Habibah).20
Sebagian nama-nama pengikutnya yang ikut ke Kaap tercatat dalam dokumen tersebut, yakni Pia, Boeleengh, Care Nanangh, Abidah, Hamidah, Sari, Bibi Aisya, Dayeengh (Daeng) Maniko, Qasim, Kentol Saip, Ragoena, Abu Bahar, Abd al-Rauf dan Abd al-Jaffar. Kedatangan Syekh Yusuf sebagai buangan politik (political exile) di Kaap disambut dengan keramahan oleh Gubernur Willem Adriaan dan menghormatinya bukan seperti orang buangan yang datang pada tahun-tahun sebelumnya.
19 Ibid. hlm. 111.
20 Ibid. hlm. 111-112.
8
Surat dari Kaap tertanggal 1 Juli 1699 diantaranya menyebutkan bahwa sejak kedatangan rombongan Syekh Yusuf sampai Agustus 1698 telah habis uang 24.421. :12 :12 gulden dan sejak itu sampai Agustus yang akan datang menjadi 26.221. :12 :12 yang sangat memberatkan Pemerintah Tanjung Harapan. Di samping itu jumlah mereka masih bertambah karena kelahiran. Maka mereka mohon diberikan dari pemeliharaan pengikut-pengikutnya.21
Masyarakat islam di Tanjung Harapan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Orang-orang Indonesia Tanjung Harapan, keturunan orang-orang Indonesia yang dilahirkan disitu. Orang-orang Indonesia disana disebut Slamaajers, bermazhab Shafii seperti nenek moyang mereka di Indonesia.
2. Orang-orang India yang pindah ke situ. Orang india bermahzab Hanafi.22
Peranan yang dimainkan oleh Syekh Yusuf di Afrika Selatan adalah mula-mula dengan memantapkan pengajaran agama kepada pengikut-pengikutnya. Kemudian mempengaruhi orang-orang buangan lainnya yang didatangkan ke Kaap sebelumnya yang terdiri atas budak-budak.23
Buku pelajaran agama dari orang-orang Indonesia disana terdiri dari kalimat Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda Tanjung Harapan dan ditulis dengan huruf Arab.Suatu hal yang patut diperhatikan adalah bahwa orang-orang Indonesia di Tanjung Harapan tetap memegang teguh agamanya meskipun mereka jauh dari tanah airnya dan mereka bergaul dengan bangsayang beragama lain yang sangat berbeda-beda.24
21 Tudjimah. Syekh Yusuf Makasar: Riwayat dan Ajarannya. Jakarta: UI Press. 1997. hlm. 9.
22 Ibid. hlm 7.
23 Abu Hamid. op. cit. hlm. 116.
24 Tudjimah. log. cit
9
Syekh Yusuf wafat di Kaap pada tanggal 23 Mei 1699 dalam usia 73 tahun. Lokasi makamnya di Faure, tidak jauh dari tempat penampungannya semula di atas tanah pertanian Zandvliet di muara Eerste River (Sungai Eerste). Belanda menyampaikan berita duka itu kepada Sultan Banten dan Raja Goa. Kedua pemimpin itu meminta agar jenazah Syekh Yusuf dikembalikan dari Afrika Selatan, tetapi pihak Belanda tidak mengindahkannya. Baru pada tahun 1704, pemerintah Belanda mengabulkan permintaannya. Pada tanggal 5 April 1705 kerandanya tiba di Goa dan kemudian dimakamkan di Lakiung pada esok harinya.25
PENUTUP
Syekh Yusuf Al-Makassari dilahirkan di Gowa Tallo, Sulawesi Selatan pada 3 Juli 1626 M. Beliau menuntut ilmu di berbagai tempat seperti Banten, Aceh, Yaman, Madinah dan Damaskus. Syekh Yusuf menjadi menantu Sultan Ageng Tirtayasa kemudian diangkat menjadi mufti dan penasihat kerajaan. Syekh Yusuf terlibat dalam konflik Aceh dengan Belanda. Syekh Yusuf berjuang untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda hingga akhirnya ia dibuang ke Ceylon dan kemudian diasingkan ke Afrika Selatan. Syekh Yusuf berperan penting dalam islamisasi di Afrika Selatan. Dari tahun 1694 hingga 1699, Syekh Yusuf mengembangkan islam di Afrika Selatan.
25 Nabilah Lubis. op. cit. hlm. 28.
10
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Abu Hamid. 1994. Syaikh Yusuf Seorang Ulama: Sufi dan Pejuang. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
M.A Lubis. 1964. Perkembangan Islam di Afrika (ketjuali keliling Lautan Tengah) dari dahulu sampai sekarang. Jakarta: Pustaka Azam.
Mohd, Ariff bin Yusof dan Denys Lombard. 1997. Cultures in Contact: Kertas Kerja Simposium antara Bangsa Mengenai Hubungan antara Kebudayaan. Kuala Lumpur: Kementrian Kebudayaan, Kesenian, dan Pelancongan Malaysia.
Nabilah Lubis. 1997. Syekh Yusuf Al-Taj Al-Makasari: Menyingkap Intisari Segala Rahasia. Bandung: Mizan.
Taufik Abdullah. 2005. Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
T. Hasan Basri. 2006. Afrika Selatan Catatan Sebuah Perjalanan di Bumi Nelson Mandela. Bandung: Humaniora.
Tudjimah. 1997. Syekh Yusuf Makasar: Riwayat dan Ajarannya. Jakarta: UI Press.
Y.B Sudarmanto. 1996. Jejak-jejak Pahlawan Dari Sultan Agung Hingga Syekh Yusuf. Jakarta: Grasindo.
Internet:
Hri. 2008. Syekh Yusuf Tonggak Islam Di Afrika Selatan. Tersedia pada http://www.republika.co.id. Diakses pada tanggal 28 April 2016.

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial